Cerita SetiaFeatured

Agustusku yang Kelima

Siang itu, menjadi saksi ketika aku berumur 5. Dentuman telur busuk melaju pada jendela entah rumah siapa. Hanya satu yang ku tahu, Ia berada di situ. Bersama wanita yang tak kukenal bagaimana bentuk rupanya.

“Lempar, dan jangan sampai ada orang yang melihat ya!” Ujar seorang nenek yang sebelumnya mengucap berbagai macam ayat dan doa sembari melihatku seorang anak berumur 5 tahun yang mungil dan seorang bayi laki-laki putih nan montok. Mama hanya diam, sembari getar-getir bentuk perasaannya kala itu. Ku tahu, hari itu merupakan hari perjuangan terakhirnya. Berharap laki-laki yang dahulu selalu pulang membawa berbagai buah tangan sepulang kerja kembali lagi.

Nyatanya hari itu rupanya menjadi hari terakhir aku bertemu laki-laki yang selama ini menjadi bentuk segala hormatku. Aku tak mengerti segala amarah bercampur menjadi tinggi dan besar. Aku mengamuk.

Miniatur kereta yang terus bergerak, teman-teman kecilku yang perlahan hilang, meninggalkan semua mainan lengkap yang tak satupun dari mereka memilikinya. Mobil mini menggunakan remote control, robot berbentuk boneka yang bisa berbicara. Ah, semua fana ternyata, usiaku yang kelima, sirna.

Hari Ulang Tahun: Agustus yang Bisu

Agustusku yang kelima, menjadi agustusku yang terakhir bersama dia. 

Kue ulang tahun nan enak, krim berwarna putih yang tinggi, manis coklat yang penuh telah sedia untuk semua teman-temanku di sekolah taman kanak-kanak. Rambut pendekku dihias dengan mahkota, gaun warna putih yang megah dan cantik, serta rona pipi dan polesan lipstik berwarna merah. Layaknya anak perempuan: berdandan adalah hal yang menyenangkan.

Semua teman-teman membawa kado masing-masing dari rumah. Banyak sekali: lemari kosong yang tinggi bahkan tidak mampu menampung kado-kadoku. Lilin dinyalakan, lagu ulang tahun kian bersenandung dengan tepukan tangan saling beriringan. Ibu mengenakan warna baju bercorak dominan ungu dan merah muda, aku ingat sekali. Seseorang disebelahnya dengan kaca mata minus tebal, rapi, sembari bernyanyi lagu ulang tahun untukku.

Namaku Setia

Hatiku sangat gembira, setiap kedatangan bulan agustus adalah hal yang aku tunggu. Ya, tiga agustus, awal bulan yang menyenangkan tentunya. Tapi, nyatanya itu dulu, saat aku berusia lima.

Panggilan Ayah, Bapak, Papa, atau sebutan apapun itu bentuknya terasa kaku dan pilu bagiku. Ya, hari itu, merupakan agustus terakhir yang aku lewati bersamanya. Hingga hari ini aku telah melewati Agustus ke 18 tanpa dia. Dan mungkin seterusnya. Ya, seterusnya tanpa dia.

Meski kaku untuk menyebut ini: “Papa, sekali pun cerita ini sampai ke tanganmu, aku hanya ingin mengucap maaf karena tak bisa tumbuh menjadi perempuan manis layaknya seorang anak perempuan yang dibangga-banggakan seorang Ayah pada umumnya. Aku bersyukur, atas takdirku, karenamu aku mampu menjadi titik ini. Meskipun aku lewati proses hidup tanpamu, terimaksih untuk segala pilu yang membuatku menjadi kuat diluar dugaanku. Sekali lagi maaf untuk kaku menyebut ini: Papa, aku tak berharap kau kembali, walau untuk apapun. Hingga seharusnya hari pernikahanku yang membuat kita bertemu.” 

Tags
Show More

Related Articles

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close