Cerita SetiaFeatured

Dibalik Pertengkaran Pertama Setia dan Pagi (Bahagian 1)

Syukur yang Tak Putus

Tiket yang sudah kamu siapkan sejak lama, hari semakin dekat, waktu terasa memburu berkejaran dengan pesat. Aku menyiapkan diri, penuh segala aduk beragam bentuk rupa perasaan. 

Tepat hari jumat. Hari yang penuh berkah dan berkesan. Karena setiap hari jumat dalam perjalanan kita memang selalu menghadirkan kisahnya. Aku menuju stasiun kereta. Stasiun yang baru pertama kali aku singgahi. Stasiun bandara menuju soeta. Perjalanan ke kota kelahiran sungguh penuh tantangan.

Aku memesan ojek online dan bersiap mengukuhkan niat sembari berpacu pada waktu kala itu. Kupikir, perjalananku akan semakin lama dan panjang, sebab sang biker ojek online tidak pernah mengantar penumpang ke tempat tujuan. Peta menjadi pegangan. Meskipun begitu, aku bahkan hingga detik ini tak pernah mengandalkan sebuah peta. Aku serahkan kuasa pada bikers online itu. Sesaat setelah sampai di stasiun aku menatap jam pada layar telpon genggam. Sesaat lagi, menuju keberangkatan kami ke soeta, sementara dia tak kunjung datang. Kemana Pagi? ujarku cemas. Tiket pesananku 13.51. Sementara ia masih di kantor pukul 13.20. Kecemasan pertama pikirku. Ia terus mengirim pesan ucap “sabar sebentar lagi aku datang.”

Stasiun Kereta Lagi-lagi Menjadi Saksi

Pagi, kau tahu? stasiun memang menjadi tempat pertemuan pertama kita kala itu. Lagi-lagi stasiun menjadi saksi perjuangan pertama kita. Kuala Tungkal, kampung halamanku sudah menunggu. Sambutan segala riak kebahagiaan seakan-akan menerkaku: mungkinkah engkau diterima dengan baik?

Kami pun segera memasuki kereta, mencari tempat duduk sesuai nomor tiket yang telah kami pesan. Namun, ternyata di kereta semua orang bebas memilih tempat duduk yang mana. Ya, sudah. Kami memilih tempat duduk yang kosong saja. Orang-orang tengah sibuk dengan layar ponselnya. Beberapa bertukar cerita, gelak tawa sesekali terdengar telinga. Sementara kita? Kau selalu memandangi mata coklatku. Sembari menebar senyum kau katakan banyak hal, bercerita soal pekerjaan yang diburu sebelum keberangkatan. Sementara aku? Tak membuat soal perihal detik-detik menunggumu di titik akhir tiket kereta yang hampir pupus. Aku tersipu selalu saat kau memandangi mata coklatku, sembari berkata “jangan pandangi aku, menghadap kanan ke sana!”

Sesampainya di soeta, kami pun mengalami masalah “menunggu” layaknya penerbangan hemat kantong ini memang selalu rutin memberi cobaan kesabaran pada penumpangnya. Tak mengapa kami pun berangkat pada pukul seharusnya kami sampai tujuan. Kami melalui penerbangan yang penuh tegang. Cuaca sedikit buruk, dan banyak hal lain yang membuat ketakutan penerbangan kian menyambut. Tapi tunggu dulu, aku tak merasa begitu takut kala itu, sebab sebelumnya, sebelum keberangkatan, setelah mengencangkan belt pesawat Pagi menuntunku berdoa. Lagi-lagi, tak habis pikirku, bertemu rupawan semacam ini. Meskipun sebelumnya masih banyak halangan sebelum kami duduk bersebelahan. Tiket yang dipesan bersamaan rupanya tak membuat kami duduk bersebelahan. Akhirnya salah satu penumpang rela bertukar posisi.

Pertengkaran Pertama Kita

Pagi kau tahu? sebelumnya aku tak pernah menyangka seorang Ibu akan menghadapi ini pada akhirnya. Menerima seseorang laki-laki yang datang untuk meminang anak perempuannya. Kau sampaikan maksud dan sejak pertama berpegah teguh pada hajatmu: Menikahiku.

Kau tahu Pagi? Banyak hal yang sudah aku lewati dan tak pernah ku alami ini. Cemas dengan segala rasa cemas yang ada. Namun, cemasku mampu kuatasi dengan keseriusanmu. Datang menyebrangi pulau Sumatera dari Jawa. Meniti kota Jambi menuju kota Kuala Tungkal dengan perjalanan yang tak singkat menggunakan mobil tambang. Saat itu, cuaca juga dirundung hujan deras. Bahkan kita baru sampai tujuan hampir tengah malam. Kuantar kau ketempat penginapan. Sesaat kemudian aku pun berangkat menuju rumah.

Ibuku. Menyambut dengan biasa. Layaknya aku pulang kampung saat lebaran tiba. Tak banyak jajaran pertanyaan langsung dilayangkan kepadaku. Ibuku hanya menyuruh untuk makan. Tekwan. Makanan khas kota Jambi-Palembang yang sudah lama tak aku santap itu menjadi makan di tengah malamku.

Setelah selesai dan laparku hilang. Aku langsung mengambil tempat untuk tidur, disebelah Ibuku. Televisi segera dinonaktifkan, dan kamipun bersiap untuk istirahat tidur. Namun nyatanya tidak. Ibuku memburuku dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak sulit untuk dijawab. Saat pertama “Apakah sudah yakin dengan pilihan ini?” Begitu ujarnya dengan pelan. Kujawab dengan penjelasan panjang. Mataku sesekali riak menitih, ku hapus secepat yang kumampu. Perjalananku sudah sejauh ini. Menikah awalnya tak pernah terpikirkan olehku. Menikah awalnya adalah sesuatu di deretan nomor sekian. Menikah bagiku hanyalah soal tujuan akhir. Perjalanan hidup masih panjang pikirku, dan menikah bukanlah sesuatu yang aku buru. Tapi itu dulu. Sebelum Pagi datang dengan segala tujuannya. Aku luluh, merubah pola pikir. Waktu nyatanya menjawab bahwa tak ada beda bertahun-tahun dengan hitungan hari belaka. Tak ada bedanya soal berkenalan atas dasar kata “pacaran” dengan kata langsung lamaran. Tidak ada bedanya. Tergantung niatnya, selalu itu Pagi sampaikan.

Amarah Nan Tak Terarah

Kau tahu Pagi? Banyak sifat burukku yang membuatmu terkaget-kaget bahkan tidak percaya pada akhirnya. Ya, amarahku melebihi apapun, kadangkala tak kusadari. Kesalahan yang sebenarnya bukanlah kesalahan. Kau terlalu lelah sebelum keberangkatan kita. Kau tertidur tidak sengaja di penginapan padahal saat itu kita tengah bersiap untuk berangkat keliling kota. Banyak tempat pun kuliner yang ingin kukenalkan padamu. Kota kelahiran kebanggaanku ini. Tapi, tidak sengaja, pukul 5 hingga azan maghrib tiba kau tertidur pulas. Bahkan tidak mendengar getar telpon genggam serta gedoran pintu tak terhitung itu. Aku bahkan cemas, apakah kau tertidur ataukah hal lain.

Sementara keluargaku biasa saja. Memaklumi, mungkin kau lelah, pikir mereka. Hatiku penuh amarah. Penuh rasa kecewa. “Kok sempat sih tertidur dalam kadaan begini” pikirku. Keluargaku berkata: aku bahkan seseorang yang tukang tidur. Sementara Pagi, ia hanya terlalu lelah: itu saja.

Setelah azan magrib berkumandang, kau menghubungiku berkata maaf segala maaf karena tak sengaja tertidur. Sementara aku dengan kecut menjawab sambil menutup telpon dengan cepat. Sabtu malam, malam minggu pertama kita di kota kelahiranku. Menikmati malam lampu-lampu jalanan, sementara aku hanya berpura-pura tidak marah kepadamu dihadapan keluragaku. Kau terus menjelaskan kepadaku “Dalam agama dijelaskan jika seseorang melakukan kesalahan dan sudah meminta maaf, kita wajib memaafkan. Jika kamu masih dirundung amarah, berarti bukan dirimu yang marah saat ini. Berwudhulah”

Aku pun terdiam, sebelum bertemu dengannya saat malam hari, aku bahkan telah menghapus puluhan ribu percakapanku dengannya di WA. Aku bahkan mengganti nama Pagi di ponselku dengan nama asli. Seperti teman biasa. Aku bahkan malu. Mengapa aku bersikap sungguh kanak-kanak kala itu. Padahal berkali-kali kata maaf telah ia sampaikan. Ketidaksengajaannya membuatku menunjukkan sifat asliku. Perajuk dengan amarah meledak-ledak. Kali ini aku sadar lagi banyak hal, ada hati yang harus aku jaga selain dia: keluargaku. Begitu adanya dalam rumah tangga, pertengkaran tak boleh terlihat oleh siapapun. Sampai akhirnya kita lupa, bahwa kita sedang dirudung amarah.

Pagi meruntuhkan egoku, mengikis amarahku dengan caranya sendiri. Segala senyumnya di mata coklat itu, membuatku luluh. Baru kali ini aku bahkan tak mampu menyimpan amarah barang sebentar. 

Kubuka pesan WA yang sangat banyak tidak aku buka. Sesekali aku buka status pesan WA tersebut. Ada pesan dari seorang yang dulu sudah memblokirku. Melalui status WA tersebut, Malam, kau hadir lagi?

 

Dok. pribadi dipetik oleh Pagi: Setia dan pagi
Dok. pribadi dipetik oleh Pagi

 

 

Tags
Show More

Related Articles

6 Comments

  1. Jangan pernah terbuai lagi dengan hadirnya malam yang membuat kita terlarut dalam sesuatu yang tak pasti, tetaplah focus dengan sang pagi yang penuh asa dan cinta yang baru ❤❤

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close