Cerita SetiaFeatured

Malam Kembali Saat Pagi Datang (Bahagian 2)

Hati Manusia yang Kukuh

Malam Mengertilah

“Satu pintaku, kabari aku sesuatu yang buruk saja, jangan kabari hal-hal baik. Selama kamu tidak memberi kabar, berarti aku tahu, kamu baik-baik saja. Itu mutlak!” Senja yang kian susut ditutup percakapan panjang melalui pesan WA. Kala itu kamu dengan tak disangka-sangka hadir kembali setelah sekian hari kamu memblokirku.

Kamu hadir lagi, sesuatu yang aku sudah tebak pasti kan kembali. Malam itu, tak sengaja kubuka pesan stories WA berbagai kontak di androidku. Tetiba ada kontakmu menuliskan pesan pada stories itu tentang pesan linu di hati soal perjuangan yang tak putus itu. Aku setengah terheran, sebab aku sadar sebelumnya kamu sudah menghapus kontak serta dengan sigap mengambil tindakan pemblokiran. Ya, bagiku wajar, sebab jarak nyatanya kita perlukan.

Malam itu, kamu mengirim pesan yang belum sempat aku baca dan sudah dihapus saja olehmu. Aku bahkan tak tahu apa bentuk isinya. Keesokan harinya kamu hadir dengan pesan ingin berkata soal kejujuran. Apa? sampaikan saja balasku. Kamu berkata rindu, serta segala beban yang menyesakkan dada. Bagaimana? Aku bisa apa? ujarku secara pasti.

Malam kamu tahu, aku sadar segala bebanmu. Aku sadar ini sulit bagimu. Aku tahu itu. Tidur di setiap malammu mungkin menyisakkan perih yang tak terperi. Aku bisa apa? Selain kata maaf dan bujukan semangat untuk hari depanmu. Bukan basa-basi ulasku. Bukan maksud memberi harapan tegasku. Kamu tentu tahu batas apa yang harus kamu perjuangkan.

Pagi tahu, sang Malam kembali. Ia pun tak menyalahkan soal ini. Sebab ini proses kita bersama. Lewati ini dan hadapi setiap inci perpindahan perasaannya. Aku yakin hari esok punya jawaban pasti. Aku Setia. Masih Setia. Setia yang Malam kenal sebelumnya, dan masih sama. Hanya saja, aku tak bisa mengatasi rasa rindu itu lagi. Tak bisa.

Pagi Kutahu Perasaanmu

“Ada hati yang harus kamu jaga, bukan hanya aku, tapi keluarga kita. Aku minta ketegasanmu.” Ucapmu dengan lembut.

Hari itu, aku telah melewati masa dimana segala sesuatu yang sebenarnya terasa membingungkan terasa semakin cerah dan jelas. Pagi membawaku pada sesuatu yang tak pernah aku lakukan dulu: tanggung jawab dan komitmen yang menyangkut orang lain: keluarga. Sejauh ini meski dengan skala waktu yang sebentar, kami telah melewati tonggak utama sebuah perjuangan: Menghadap orang tua.

Apa arti menikah menurutmu? jauh hati kecilku bertanya pada diriku sendiri. Meski aku masih terbata menjawab pertanyaanku sendiri, namun satu hal yang ku tahu pasti. Aku ingin kembali. Kembali menjadi apa yang seharusnya aku menjadi. Manusia taat dan berguna. Dengan menikah, perlahan aku mampu menjawab itu semua. Menjadi istri dengan tetap segala kurangku, perlahan kuperbaiki segala. Menjadi ibu sesuatu yang dahulu tak pernah aku pikirkan bagaimana bentuk prosesnya. Sebab kamu tahu Pagi? Hidup memang terasa rumit bagiku. Aku mengalami sesuatu yang buruk di masa kecil. Hingga kini kau pun tahu, aku masih terngiang akan suasana buruk itu. Menangis bukanlah pilihan utamaku. Brontak adalah pilihan utamaku. Iya, brontak dan amarah sudah biasa aku hadapi.

Kamu tahu Pagi? Kamu adalah laki-laki yang menjawab itu semua. Menjawab egoku, adalah prestasimu. Aku bangga akan itu. 

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close