Cerita SetiaFeatured

Hari Kedua Mengenal Pagi: Bentengku Gusar!

Mengenal Pagi Meninggalkan Malam

Teruntuk Pagi,

Sebenarnya aku pun tak mengerti soal perpindahan hati ini barang satu inci. Aku tak menyadarinya bahkan ternyata diam-diam rasa itu juga berpaut nan bersaut. Kau katakan sesuatu sejak hari pertama inginkan itu: menuju ke arah yang lebih baik bersama. Artinya: menikah. Sementara aku harus jawab apa? Sebab aku masih bertengger pada Malam. Malam yang menyejukkan, memberi kelip bintang dan cahaya bulan. Malam tak pernah berpaling barang sebentar. Sementara aku? Aku setia. Aku setia!

Teruntuk Malam,

Hari kedua sejak saat pertama Pagi katakan hajatnya kepadaku, aku tak berani berkata jujur kepada Malam. Aku terus bersembunyi di balik rasa ketakutan. Sebab aku tak pernah memberi peluang kepada siapapun termasuk Pagi. Aku telah menjalani hari-hari bersama Malam, bertahun-tahun berlalu, segala kenangan tak pernah pudar apalagi hilang. Lalu pagi datang secara tiba-tiba. Bukan disengaja melainkan: jalan-Nya.

Teruntuk Pagi,

Aku tak pernah menyalahkan apa yang telah kau rencanakan sejak awal, sejak pertama kali menetapkan hati ingin kenal lebih denganku. Aku tak pernah memberi arti yang penuh atas rasa perkenalan yang ternyata berkesan untukmu. Bukan inginku untuk menyakiti hati siapapun dalam kondisi ini. Aku bisa apa? Aku setia.

Hari kedua mengenal pagi
Mengenal pagi (setiapagi)

Teruntuk Malam,

Aku paham betul jika kau tahu hal ini, tentu kecewa tak berujung menghampirimu. Bukan karena aku berpaling, bukan. Bukan karena aku tak mampu menunggu mu di negeri orang, bukan. Tapi, aku hanya ingin menaati apa yang sebenarnya hatiku katakan. Aku juga ingin kenal Pagi lebih lama lagi. Izinkan aku lakukan ini, meski diam-diam. Aku setia. Aku setia!

Teruntuk Pagi,

Perpindahan barang seinci begitu terasa pesat. Sangat pesat. Kau mengenalku dengan apa adanya diriku. Sebagaimana aku yang sebenarnya tanpa apa-apa. Segala lemahku mampu kau terima. Segala keluhku mampu kau dengar. Sama halnya seperti Malam, juga begitu. Sama.

Namun, lagi-lagi bukan maksud menyakiti hati siapapun. Satu hal yang kusadari. Pagi, kau bukanlah cerminan Malam. Kau sebagaimana dirimu, aku paham niat tulusmu. Meski kalian berniat sama. Aku tengah mengalami hari-hari sulit itu. Segala gelak tawa saat kita bersama dulu Malam, berubah pecah bak air tumpah. Tangis. Setiap saat rasa bersalahku singgah. Aku bisa kata apa? Aku setia! Aku setia!

Malam, seandainya kau tahu lebih dulu, sejak hari pertama Pagi datang padaku, bukan enam belas hari kemudian yang Pagi butuhkan. Saat itu juga! saat itu juga! 

Sejatinya segala rencana kita sebagai manusia hanya tinggal rencana belaka. Sang pemilik rencana terbaik berkata lain: Pagi, aku ingin mengenalmu lagi lebih dari ini.

Salam,
Setia

Tags
Show More

Related Articles

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close