Cerita SetiaFeatured

Pagi dan Malam: Terimakasih untuk Segala!

Hari Ketiga Hingga Keenam Belas: Penentuan!

“Pada peron ini aku menunggu hingga ujung destinasi. Aku takut kau tak kunjung datang, atau bahkan salah tujuan. Akulah tujuan yang tepat.” Ujar Pagi.

“Apapun yang terjadi, siapapun yang kau pilih, dan sekalipun kau salah dalam memilih kembalilah kepadaku lagi.” Ujar Malam.

Namaku Setia!

Pada sepertiga malam hari ketiga aku berdiskusi dengan-Nya. Larut sudah, tak biasa aku bangun dengan penuh rasa bersalah. Merasa sakit nan teriris, perih namun tak mampu kutanggul lagi luka itu. Aku tak sengaja menitih. Tumpah sudah tetesan di pipi. Di atas sajadah aku berpasrah. Tanganku meminta dengan ampun segala ampun. Malam itu, menjadi malam pertama masa-masa sulitku. Waktu terasa berdetak cepat.

Aku ingat sekali, kapan terakhir kali aku buka lemari baju yang menggantungkan mukena berwarna abu nan tertengger rapi. Aku pandangi mukena itu, lalu menitih. Jauh hati kecilku berkata: Jika aku ditegur untuk menjadi pribadi yang lebih baik, tentu cara ini sungguh tak pernah terbayangkan olehku. Suaraku lirih, meminta. Suasana kamar nan sunyi menemani malam itu. Terbayang wajah yang selalu menantiku bahkan berjuang untukku di negeri sakura: Jepang. Tujuan akhir kami untuk berjuang. Terbayang wajah seseorang yang baru saja datang bahkan tanpa ragu, namun dengan sungguh permisi.

Aku Bergetar

Aku mengenalnya bukan dengan tidak sengaja. Perjalanan singkat dalam waktu lebih sehari itu menjadikanku sadar satu hal. Akankah Pagi menjadi tujuan? Komunikasi panjang, waktu terasa pendek dan kecocokan itu pun seiring berjalan. Aku tidak melupakanmu Malam: seseorang yang tengah berjuang demi aku: Setia.

Aku ingat, aku ingat betul bagaimana janji kita terakhir kali di bandara soeta. Kau katakan, jaga diri dan hati, kau katakan akan kembali mewujudkan mimpi di sini. Menjadi apa yang aku inginkan. Kau tak pernah berpaling dengan wanita di luar sana yang jauh lebih baik dari aku: aku sadari itu. Sejak pertama kali kau datang padaku Malam, tiga tahun berlalu sejak saat kau ucap komitmenmu: Bahagiakan aku. Hingga kata tunggu tiga tahun lagi kau ucapkan padaku: tunggu aku. Aku tak pernah gusar untuk menghitung angka 6 tahun berlalu hingga helat datang. Aku tak pernah ragu menunggumu. Aku setia.

Kusebut Kau Pagi

Aku selalu benci bangun di pagi hari. Aku murung ketika pagi. Segala rasa kantuk tak terbayar akibat Malam yang aku habiskan. Setiap pagi aku lewatkan dengan kantuk dan rasa keluh. Meski tak sehat, meski segala kerugian aku dapatkan, aku tak ingin mengubah pola hidupku. Sebab yang aku butuhkan hanya malam hari. Sedari malam aku mampu menyampaikan isi hati dan pikiran lewat tulisan ringan. Aku kerjakan segala pekerjaanku hanya di waktu malam. Lalu ketika pagi, semangatku hilang. Kantuk gemuruh selalu datang.

Sementara kau datang Pagi. Kau datang dengan segala penjelasan. Pagi adalah matahari. Kau sinar itu. Kau sampaikan bahwa pagi selalu baik dan akan selalu menjadi baik.

Kusebut Kau Malam

Kau selalu tahu, sejak pertama kita kenal tiga tahun silam, kau pahami aku. Segala tingkahku, sifat burukku. Tanpa keluh, kau terima aku. Pertengkaran pertama kita waktu itu buatku sadar satu hal aku wanita keras kepala, mementingkan ego diatas segala. Kau terima itu. Tak ada bujuk rayu, tak ada imbalan semu, kau hanya jelaskan padaku, bagaimana seharusnya aku menjadi aku. Kita berproses bersama, menjadi pribadi yang lebih baik niat awalnya. Seiring waktu berjalan. Tahun berganti tahun, kita saling dukung mendukung. Menyelesaikan studi sesuai rencana, menyelesaikan satu demi satu step bersama. Kita mulai dari awal. Kita akhiri lagi di awal. Sebab Pagi sudah menjemputku.

Pagi Datang

Aku tahu, kau sampaikan niat baik dari jawaban shalat istikharahmu. Sepertiga malam yang ajarkan aku, sendu. Aku pun semakin gamang, sejak pertama kau ucapkan niat itu. Aku tak sempat sampaikan pada Malam, bahwa Pagi telah datang. Aku pun tak sempat sampaikan pada Pagi bahwa Malam sudah memiliki aku. Dering ganggang telpon setiap melepas keruh bekerja di ibukota. Selepas isya, kau hubungi aku. Kau ceritakan banyak hal. Gelak tawa sesekali mengalir. Aku pun rasakan sesuatu yang dulu aku rasakan ketika di dekat Malam. Aku makin merasa bersalah. Aku takut. Aku takut. Sabab namaku setia. Aku setia!

Bioskop Menjadi Saksi

Pagi, aku takut sejak kepulangan setelah kemping itu, kau tanyakan padaku: “Film terbaik apa minggu ini?” Dalam hati kecilku berkata tidak! Jangan sampai ada pendekatan lagi setelah ini. Jangan ada pertemuan lagi setelah ini. Aku pun tak mengiyakan ajakan itu secara pasti. Waktu berjalan berdetak sangat kencang, hingga aku putuskan terima ajakan untuk pergi menonton film terbaik minggu itu. Niatku adalah sampaikan kepadamu: Aku punya Malam.

Segala keterbukaanku kau terima, kau bahkan berkata sempat ragu sebab aku begitu tersiksa di posisi ini. Kau kembali diskusi dengan-Nya. Istikharah kembali haruskah melanjutkan atau menyerah saja? Hatimu mantap berkata lanjut saja, berusaha hingga titik terakhir dan berpasrah atas jawabanku nantinya.

Malam pun Tahu

Malam, aku tak mengerti mengapa Tuhan sampaikan sesuatu kepadamu melalui mimpi itu. Kau khawatir, kau tahu aku berubah, padahal satu yang pasti aku tak berubah. Aku masih memikirkanmu, sehatkah kau di sana. Baikkah hari-harimu, dan bisakah kau tersenyum hari ini? Selalu ku masih selipkan doa untukmu. Ganggang telpon selalu berdering tiap pukul empat sore: pukul enam waktu Jepang. Kau tanyakan banyak hal. hingga akhirnya aku buka. Aku jujur. Pagi datang ucapku. Aku ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi sampaiku.

Tak habis pikirmu Malam, kau derai air mata begitu kecewa. Kau ucap bahwa Jepang bukan lagi apa-apa. Kau sebut akan kembali ke Indonesia, menjemputku, melamarku dalam waktu dekat. Aku tak kuasa. Aku pun goyah. Sebab rasa itu masih sama. Aku setia!

Kau tak marah bahkan justru meminta maaf kepadaku. “Maaf karena aku belum bisa menjadi yang terbaik, hingga kamu berpaling mencari yang lebih baik. Maaf karena aku tak berada di sana saat kamu butuh. Siapapun yang kamu pilih, apapun pilihanmu, dan jika suatu hari kamu salah dalam memilih, kembalilah kepadaku lagi. Aku masih di sini. Masih sama. Menyanyangimu dengan sungguh!” ujarnya sambil menitih.

Tak habis-habis derai air mata mengalir menemani hari-hariku. Aku gamang. Benar-benar gamang.

Pagi Aku Memilihmu

Pada istikharah terakhir entah malam keberapa, setelah tanda-tanda Nya begitu nyata. Hatiku mantap. Aku bangun pada subuh pertama dengan hati yang lega. Aku tak bermimpi seperti malam-malam sebelumnya. Mataku masih terkantuk-kantuk. Terduduk di atas karpet oranye. Sesekali mataku masih terpejam untuk kumpulkan tenaga membasuh dan berwudhu. Tiba-tiba seketika wangi parfum itu: Ia seperti duduk di sampingku. Aku kenal sekali. Hatiku bergetar, terbayang wajah yang pertama kali aku sadari tidak lama ini. Wajah yang pertama kali aku sadari para peron pertama pertemuan kami. Dengan wajah riang kau menyapaku. Wajah itu muncul. Hatiku tegas berdetak. Parfum itu. Ya, dia jawabannya. Mataku pun langsung terbuka dengan mantap. Aku berucap takjub. “MasyaAllah”, “Subhanallah”. Aku pun segera membasuh muka, berdoa, mengambil tempat untuk menghadapNya. Mataku sesekali kembali menitih. Sekalipun tak terbesit di kepalaku Mengapa Pagi? Bukan Malam?

Aku segera sampaikan pesan melalui WA singkat: “Mas aku memilihmu.”

Kau pun hanya berkata kalimat syukur berulang-ulang kali hingga suaramu terasa samar pada ganggang telpon subuh itu. Aku hanya menitih. Namun hatiku terasa lain. Aku menitih bukan karena sedih telah meninggalkan Malam. Aku menitih, bergetar, mataku sadar.

Aku segera sampaikan pesan panjang melalui WA dengan inti cerita segala maaf untuk Malam. Segala maaf atas semua kesalahan.

“Meskipun aku paksakan datang kerumahmu, melamarmu. Ku pikir itu usaha terakhirku, dan aku meminta izin ketika kau ragu kala itu. Namun, nyatanya aku sadar satu hal. Usaha terakhirku bukanlah datang kerumahmu, melainkan ikhlas. Ikhlas kau bersama dia yang ku yakini mampu membuatmu bahagia. Aku bangga pada diriku sendiri. Niatku selama ini adalah bahagiakan kamu, berangkat ke Jepang juga untuk membahagiakanmu. Meskipun pada akhirnya keberangkatanku ke Jepang membuatmu bertemu dengan dia. Asal kau bahagia. Meski bukan bersamaku lagi. Berbanggalah kamu, menjadi pribadi baru yang lebih baik. Hijrah seorang wanita adalah menikah. Sampaikan salamku buatnya. Dia pantas memilikimu.” Kali ini ia tak lagi menitih perih. Ia mantap menelponku setelah kusampaikan pesan subuh itu.

Sore itu pukul empat: pukul enam waktu Jepang. Kau sampaikan itu. Berkali-kali kau kirim pesan “izinkan aku menelponmu”

Aku takut benar-benar takut mendengar jawabanmu atas pesan panjangku subuh itu. Nyatanya kau berlapang dada. Meski ku tahu hari-hari ke depan sungguh tak ada arti lagi bagimu.

“Sudah tiga malam berturut-turut aku sholat, merenung, sholat merenung, sholat, merenung, hingga aku lupa sudah mengerjakan hingga rakaat keberapa. Aku sakit sesakit-sakitnya sakit. Dan aku sadar satu hal, Allah rindu padaku. Aku kembali berdiskusi dengan-Nya. Damai rasanya. Benar perjuangan terakhirku adalah mengikhlaskanmu. Kau wanita hebat. Beruntungnya dia. Tak akan ada lagi mimpi-mimpi. Tak akan ada lagi harapan tinggi. Tak akan ada lagi cita-cita. Segalanya sudah hilang seiring kepergianmu. Aku bisa apa? Aku hanya akan melanjutkan hidup di sini hingga tiga tahun ke depan, sendiri. Tanpa foto bento lagi yang saban hari aku siapkan untuk laporan kepadamu. ‘Ini makananku hari ini.’ Tak akan ada lagi fotomu yang kupinta selepas kerja. Tak akan ada lagi dering telpon atas namamu, Bee. Aku harus biasakan tak menyebut itu lagi. Tiga tahun sudah aku belajar banyak hal. Denganmu tak pernah ada kata sesal.”

Dia hebat. tiga tahun kebersamaan kita, tiga tahun niatmu menunggu kemudian. Dibalas dengan hanya dengan cukup enam belas hari saja.  

Bersama angin malam ini. Aku sadar satu hal, menghirup napas lega tanpa beban. Haru pilu, meski begitu telah berlalu. Aku tatap langit bersamamu di tempat tertinggi gedung ini. Setelah melaksanakan sholat fardu malam itu. Semilir angin menyapa kita. Terimakasih, ucapku padamu.

Hari esok ku lalui bersama Pagi, dengan lantang ke arah matahari. Kali ini aku bukan hanya sadar beberapa hal. Banyak hal. Aku tak bisa hidup tanpa melihat matahari. Maka dari itu aku butuh Pagi. Ia sinar itu. Mata coklat itu, persis zona coklat dengan zona mataku. Menatapku mantap sembari mengukir senyum. Mata tulusnya. Tak pernah bisa aku elak lagi.

Namaku Setia. Lima suku kata berawal dari desis berakhir vokal. Aku bukan khianat. Meski tak sedikit luka yang Malam rasa, sebagai manusia kita hanya bisa berencana. Kita ikuti skenario-Nya. 

Tags
Show More

Related Articles

10 Comments

  1. Waktu subuh selalu jadi favoritku tenang sepi penuh kesejukan, dan kini dilengkapkan oleh-Nya dengan berita bahagia itu darimu,. Setia, terima kasih telah memilihku. Kita lanjutkan perjalanan ini bersama 🙂

  2. Malam berkedap-kedip memberi tanda kesedihan langit.
    Sungkan bila bumi tak sanggup menelan semua.
    Tinggallah riak memecah kesunyian.
    Alam sungguh berbaik hati membuka tabir di ufuk lautan agar pagi dapat menyapa.
    ——
    Konsep blog ini bagus dan menarik 😀

  3. Tetapi malam menemanimu lebih lama. Pagi tak selamanya pagi. Sejuknya hanya sampai siang. Lalu siang akan menjadi sore menuju senja. Senja menyambut malam dengan rona jingga yang indah. Tetapi tetap, malam menemanimu lebih lama sampai kembali bertemu pagi.

  4. Tetapi malam menemanimu lebih lama. Pagi tak selamanya pagi. Sejuk embunnya sementara hingga ia menjelma siang. Siang larut menuju sore hingga nanti berakhir senja. Dan senja menghadiahi malam dengan cakrawala rona jingga yang membuncah berjuta kenangan. Lalu kenangan itu menjelma bintang tempat asa mengadu cerita. Tetapi oh tetapi, malam tetap menemanimu lebih lama sampai nanti kembali bertemu pagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close