Cerita SetiaFeatured

Hari Pertama Mengenal Pagi: Sebuah Kisah Bermula

Bukan Sebuah Pertemuan

Bukan soal pertemuan, namun soal penemuan. Penemuan sesuatu yang ternyata InsyaAllah menjadi akhir sebuah pencarian. Aamiin.

Untukmu Pagi,

Kali ini aku benar-benar tak menyangka bahwa jalan hidup berliku seperti yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Aku mengira  tak akan ada sesuatu yang mendebarkan dada lebih kencang dari biasa sejak saat itu. Harum semerbak minyak wangi yang terbawa angin seiring kedatanganmu menemuiku. Layaknya berada di bawah pohon pinus yang sedang rindang daunnya, di dekatmu  aku merasa duduk di situ: nyaman.

Kau mengenakan baju senada dengan ransel khusus mendaki. Sedangkan aku juga mengenakan baju senada dengan tujuan pergi ke pusat perbelanjaan Ibukota. Ah, yang benar saja, aku tak merasa malu barang sedikitpun kala itu. Sebab aku tak mengambil hati maupun perasaan yang aneh-aneh layaknya seorang anak remaja. Hatiku biasa saja, seperti berhadapan dengan seorang teman sepermainan.

Untukmu Pagi,

Tak ada yang lebih membahagiakan dari sebuah penantian atas segala jawaban. Tahukah kau Pagi, kali ini aku tengah berada pada masa yang benar-benar belum pernah aku rasakan sebelumnya. Sejak segala angan, cita, serta harapan itu mampu kau jawab. Tak perlu waktu lama. Tak perlu habiskan banyak tenaga: hari ke enam belas sejak pertama jumpa aku katakan iya!

Mengenal Pagi,

Tahukah kau, aku tak pernah mengira akan mengenal Pagi. Aku tak pernah tahu bahkan saat pertama kali kau melihat ke arahku dan memulai sebuah percakapan ringan di sebuah pertemuan anggota sebuah komunitas kala itu. Aku tak mengira. Itu menjadi bagian awal rasa ketertarikanmu muncul. Aku bahkan tak ingat sedikitpun tentang Pagi kala itu. Sebab aku tak menghitungnya sebagai pertemuan pertama mengenal Pagi.

Maafkan aku Pagi,

 

Mengenal Pagi, membuat kata maaf yang tiada habisnya kan terucap. Gelas kaca yang telah pecah dengan beberapa kali tegukan itu, membuatku sadar, bahwa air yang ingin kau isi benar-benar jernih dan murni.

Pagi. Denganmu aku tahu, bahwa menunggu ternyata sungguh menyakitkan. Kau buatku tak lagi menunggu Malam yang sempat menjadi keyakinan ini semakin penuh. Mengenalmu Pagi: maaf atas segala lalu yang membuatmu menaiki bianglala ini. Meskipun awalnya sendiri, kini aku sudah masuk kedalam zona bianglala teratas: BERSAMAMU!

Salam Hangat,

Setia.

Tags
Show More

Related Articles

12 Comments

  1. Hai pagi taukah km yg dibutuhkan setia. Mungkin n pasti km tahu kalau dia butuh kata pasti. Iya sebuah kepastian hingga kata setia itu tidak seperti Sego kucing ilang karete

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close