Cerita Setia

Perjalanan Hati: Hitungan Tahun Dibalas dengan Hitungan Hari

Perjalanan Terbesarku Menikah denganmu

Aku jadi ingat awal mula pertemuan tak disengaja kita. Kala itu, yang pasti aku ingin menambah keluarga, menambah teman, dan menambah jaringan kerja tentunya. Masuk komunitas yang sesuai passionku: Blogger Jakarta. Aku tak pernah mengenal siapa ia, bagaimana bentuk sifatnya, bagaimana keluarganya, dan hal lain yang menyertainya kala itu. Yang kutahu, aku junior, dia senior. Selayaknya di sebuah perkumpulan, tentu ada senior dan junior. Aku anak bawang, aku baru saja masuk. Begitu pikirku.

Pertemuan pertama komunitas ini pada sebuah acara ulang tahun komunitas dengan turut mengundang semua anggota dari angkatan pertama hingga angkatanku. Aku tak kenal siapapun di komunitas itu, hingga sebelum acara, agar tak kikuk-kikuk amat, akhirnya aku bertemu teman seperjalanan menuju tempat perhelatan acara. Mei namanya. Kami berdua pun pergi berdua bersamaan.

Nah, setelah itu, beberapa rangkaian acarapun kita lalui, hingga games lucu yang membuatku sedikit agak terkenal karena jepretan sang suami. Nggak nyangka banget, orang yang memotret moment itu menjadi suamiku saat ini.

Jujur memang, aku tak pernah mengumbar soal asmara di akun media sosial maupun cerita panjang lebar soal kekasih hati. Namun, ketika siapapun yang bertanya kepadaku soal calon pendamping aku pasti katakan sudah punya. Sebab kala itu aku memang tak sendiri. Aku bukan bermaksud ingin mengulik masa lalu atau ingin membongkar memoar pilu bagi mantan calon suamiku ataupun mengulik luka bagi suamiku pula. Tapi, aku hanya ingin membagi kisahku yang kurasa tak semua orang bisa alami ini, karena begitu kata mereka yang tahu inti ceritanya.

Singkat cerita: aku memang tak sendiri ketika suamiku datang padaku ingin mengenal lebih dalam. Aku tak bohong padanya. Akupun katakan punya kekasih hati yang telah lama bersama tak terhitung lagi soal memori. Ia pertama kali datangpun mengutarakan niatnya ingin melamar, ingin menjadikanku istri. Ingin berjuang menjadi lebih baik bersama. Aku sempat kaget. Sebab ia pun katakan sebelum mengajakku kemping kala itu, sempat bertanya kepada-Nya di sepertiga malamnya: bolehkah dekat denganku?

Aku yang tak tahu menau maksud laki-laki ini, aku tak tau menau akan jadi seperti ini. Kutahu, aku hanya ingin menyegarkan pikiran, liburan sejenak, menikmati alam. Serta ingin mendekatkan diri dengan teman-teman lainnya. Sebab niatku, memang ingin mencari keluarga.

Gelagatnya terlihat ketika mengajakku kemping, perhatian, khawatir, lebih dari peduli, namun kembali lagi, aku hanya menganggapnya senior dan sebatas teman.

Perbincangan hebohpun hadir di percakapan grup whatsup Blogger Jakarta. Gosip simpang siur, naik turun, kian berhambur. Aku tak membaca pesan itu, sebab kala itu handphoneku memang tidak aktif.

Ia pun berkata “Kamu nggak liat anak-anak di grup ngomongin kita?” Aku tak tahu menau, sambil berlaga layaknya tak terjadi apa-apa.

Padahal, jujur akupun merasa sesuatu yang aneh kala itu. Aku nyaman, tapi aku bingung nyaman untuk apa. Temankah? Saudarakah? atau siapa?

Dalam hitungan hari selama di kemping, terjadi hal aneh soal teman-teman lainnya yang turut mengolok-olok seperti layaknya mak comblang. Namun, tak ada pikiranku mengarah ke sana: relationship. Sebab bagiku ya, ia hanya teman. Teman biasa. Aku sudah punya kekasih. Aku setia.

Aku sulit menemukan seseorang yang cocok diajak berbincang banyak hal tentang ini itu, berdebat tentang ini itu, hingga menarik kesimpulan secara teoritis hingga perencanaan yang panjang. Apalagi dekat dengan laki-laki sebagai kekasih hati. Bertemu dengan orang terdahulu yang kukenal hitungan tahun lamanya. Ia yang mampu melengkapiku kala itu.

Nyatanya ada rasa yang lebih berbeda saat aku bertemu dengan suamiku. Semua terasa lebih lengkap ketika aku bertemu dengan suamiku. Aku baru sadar satu hal, hanya suamiku yang mampu melengkapi keganjilanku. Keganjilan hidupku.

***

Aku tak menyesal. Bertahun-tahun aku menjalin hubungan, berjuang bersama, hingga menggapai mimpi bersama, perencanaan besar, kuantarkan ia ke bandara menuju negara yang aku impi-impikan: Jepang. Yang kutahu salah satu alasannya pergi adalah aku. Nyatanya Tuhan berkata lain. Masih tak disangka-sangka, aku telah menjadi seorang istri dengan orang yang baru kukenal hitungan hari. Meskipun belum genap penuh satu bulan menjadi seorang istri, aku menyadari banyak hal tentang diriku sendiri.

Aku tak menyesali apapun pilihan hatiku, aku bersyukur menjadi diriku, dan memilikimu: suamiku. Tak disangka-sangka semua ini terjadi dalam hidupku. Bertemu, bahkan menikah dengan orang yang tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Tuhan memang pemilik skenario paling indah.

Bagi banyak orang yang mendengar ceritaku ini, mungkin sebelah sisi berpikir bahwa pihak situ lebih menderita, pihak sini lebih bahagia, pihak situ berkorban, dan lain sebagainya.

Menurutku, tak ada kata berkorban dalam cinta, ya cinta soal kerelaan, soal keikhlasan. Tak penting seberapa besar nominal, angka bahkan logika yang telah terbuang. Jika ia cinta, penghujung cerita adalah ikhlas. Aku ikhlas apapun yang terjadi dengan masa laluku, bertemunya mengajariku banyak hal soal kerelaan. Aku ikhlas pula dengan masa lalu suamiku, siapapun ia di masa lalu yang tak sempat kukenal lebih jauh itu, aku terima dia dan segalanya ia.

Aku sadar, aku mencintainya, hingga akad terujar olehnya di depan penghulu. Campur aduk perasaan saat hari itu, hingga perasaan bahagia tak terhingga baru ku sadari di hari-hari berikutnya. Alhamdulillah, tak adakata ujung untuk rasa syukur yang selalu kupanjatkan. Hingga niatku menjadikan ini kumpulan cerita telah mendapat izin dari berbagai pihak yang bersangkutan. Oiya, teman pembaca cerita setia, jangan lupa ditunggu peluncuran bukunya, semoga sesuai target ya!

Cheers, Setia!

Tags
Show More

Related Articles

One Comment

  1. Untuk mengukur sebuah kualitas rasa cinta memang bukan hanya tentang waktu, atau apa yang dilakukan demi siapa. Ia adalah kehendak dariNya. Love this story..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close